Menu

Latest Research

Gangguan Reproduksi "Diwariskan"

Proses pertumbuhan fisik terlihat nyata di masa puber. Ada cewek yang mengalami perubahan fisiknya lebih cepat, ada yang sangat lambat. Termasuk menstruasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh kecukupan produksi kadar hormon, dan diwariskan oleh ibu. Ditengarai proses yang sama menjadi cara diwariskannya gangguan reproduksi.

Itu adalah kesimpulan para peneliti dari National Institutes of Health Clinical Center, milik pemerintah Amerika Serikat, setelah melakukan penelitian bersama dengan Massachusetts General Hospital. Para peneliti tergelitik melakukan pengamatan terhadap kondisi puber karena diketahui bahwa ada perempuan yang mengalami penundaan puber akibat kadar hormon yang sangat rendah, dan sebaliknya orang yang mengalami periode puber lebih awal dibandingkan seharusnya, justru mengalami gangguan reproduksi setelah dewasa.

Penelitian yang telah berlangsung sejak Desember 2011 ini, melibatkan 500 responden. Setiap responden diambil sampel darahnya di awal penelitian, dan mengisi kuesioner yang mendata gejala-gejala pubertas mereka. Selain itu, setiap respoden juga menjalani uji kemampuan mencium. Sepanjang periode penelitian, proses perkembangan dan kondisi kesehatan para responden dicatat dan diamati. Selain itu, anggota keluarga respoden pun dicatat kondisi kesehatannya.

Para peneliti menemukan bahwa pubertas merupakan fase penting kesehatan reproduksi. Seseorang akan mengalami pubertas jika kelenjar hipotalamus di otak memroduksi Gonadotropin Releasing Hormone, atau GnRH. Semakin banyak GnRH diproduksi, semakin cepat proses pubertas berlangsung. Sayangnya, impuls atau faktor pendorong hipotalamus memroduksi GnRH belum diketahui. Sebaliknya kadar GnRH yang minim melambatkan pubertas, dan berarti keterlambaan pematangan reproduksi. Dalam pengamatannya, para ahli menemukan bahwa jika seseorang mengalami hal ini di usia puber, maka anggota keluarga yang lebih senior, biasanya mengalami hal yang serupa bahkan kemudian mengalami gangguan kesehatan reproduksi.

Saat ini lembaga-lembaga terkait sedang melanjutkan penelitian untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hubungan genetis, dan mendapatkan cara untuk mengintervensi gangguan tersebut diturunkan pada generasi selanjutnya.

Related Articles