Menu

Latest Research

Menstruasi Kista Ovarium Tak Perlu Selalu Dioperasi

Kista Ovarium Tak Selalu Perlu Dioperasi

Kista ovarium adalah kantong berisi cairan yang terbentuk di dalam ovarium. Seharusnya keberadaan kista di ovarium tidak memicu masalah. Tetapi, pada sebagian kasus kista bisa memicu kondisi tidak nyaman seperti nyeri panggul dan kembung. Jika dokter menemukan kista pada seorang perempuan yang diperiksanya, segera akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan USG untuk memastikan apakah kista termasuk jinak, atau ganas. Jika diketahui ganas dan berupa kanker, kista akan dioperasi dan dianalisa.

Biasanya, bahkan setelah dipastikan kista yang ada terkategori jinak, dokter tetap menyarankan agar dilakukan operasi pengangkatan kista. Hal dimaksudkan untuk menghindari risiko komplikasi seperti; kista pecah atau posisi ovarium berbalik. Tetapi ada juga kecemasan bahwa kista yang jinak itu berubah menjadi ganas, dan mencegah kemungkinan kesalahan diagnosa pada saat USG.

Namun kini terbuka kemungkinan lain. Para ahli dari Eropa, yang merupakan gabungan dari 10 negara, termasuk di dalamnya Inggris, Belgia, Swedia dan Italia menemukan bahwa tidak semua kista perlu dioperasi. Kesimpulan ini diambil setelah mereka melakukan penelitian dengan metode pengamatan selama 2 tahun, dan melibatkan 1919 responden perempuan. Rata-rata responden berusia 48 tahun, dengan ukuran kista berdiameter rata-rata 4 cm.

Para ahli di 10 negara tersebut bersepakat melakukan tindakan pengamatan kondisi kista pasien mereka masing-masing, setelah terdeteksi melalui USG. Parameter yang diamati adalah diameter dan perkembangan kista tersebut. Semua pasien yang menjadi responden penelitian menjalani USG setiap bulan setelah terdeteksi mengidap kista. Hasilnya bisa saja; ukuran kista tidak bertambah, mengecil, atau bahkan hilang.

Hasil dari penelitian dengan metode pengamatan ini diketahui, di antara 1919 responden, 20% responden mengalami kista yang hilang, dan 16% menjalani operasi. Tetapi selain itu, kista responden yang tersisa dapat teratasi tanpa operasi. Di antara 1919 responden tersebut, hanya 12 yang kemudian terbukti mengalami kanker ovariaum. Kondisi ini berarti hanya 0,4% dan relatif kecil. Tingkat komplikasi lain yang dicemaskan, yaitu posisi ovarium terbalik terjadi sebanyak 0,4% dan kista yang pecah terjadi sebanyak 0,2%.

Profesor Dirk Timmerman, penulis utama laporan penelitian ini menuliskan bahwa meskipun risiko operasi pengangkatan kista relatif kecil, jika perempuan dalam kelompok usia responden (rata-rata 48 tahun) ini menjalani operasik kemungkinan besar mereka akan mengalami komplikasi akibat operasi. Hal ini diperkuat oleh Profesor Tom Bourne, dari Imperial College London yang mengingatkan bahwa sangat penting menerapkan periode pengamatan pada kondisi kista ovarium yang terdeteksi bukan kanker sejak USG pertama, karena akan menghindari perempuan dari berbagai masalah yang timbul akibat operasi.

Related Articles