Logo

Menstruasi.com

Women Pages

Latest Research

Probiotik Mengatasi Infeksi Saluran Kemih

 

Menstruasi - Probiotik Mengatasi Infeksi Saluran KemihSekalipun saluran kemih adalah bagian dari sistem pembuangan, karena berada di dalam saluran vagina, maka infeksi saluran kemih cenderung mengganggu kesehatan reproduksi perempuan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan para ahli kesehatan reproduksi memantau kesehatan saluran kemih seorang perempuan.

Selama ini jika terjadi infeksi saluran kemih, proses pengobatan yang dilakukan oleh dokter adalah memberikan antibiotik, yang relatif ‘keras’ bagi tubuh. Padahal infeksi saluran kemih cenderung dialami berulang oleh seorang perempuan. Sehingga pengobatan antibiotik pun harus dialami berulang oleh mereka. Tetapi sepertinya para ahli telah menemukan titik terang untuk mengatasi infeksi saluran kemih tanpa antibiotik.

Para peneliti dari Universitas Washington baru-baru ini melansir hasil penelitian mereka tentang cara baru mengatasi infeksi saluran kemih tersebut dengan jenis probiotik (jenis bakteri ramah) tertentu. Hasil ini telah dilansir oleh The journal Clinical Infectious Diseases edisi Mei 2011. Dalam penelitian yang melibatkan 100 orang perempuan yang mengalami infeksi saluran kemih berulang, para ahli memberikan secara acak obat intravaginal yang berisi Lactobacillus crispatus bernama LACTIN-V dan placebo (kapsul kosong) selama 5 hari berturut-turut, kemudian setelahnya 1 kali seminggu selama 10 minggu.

Ann Stapleton, salah seorang anggota tim peneliti tersebut menjelaskan dalam artikel bahwa kapsul probiotik itu bisa menurunkan kejadian infeksi saluran kemih pada perempuan  yang mendapatkan obat itu secara rutin. “Di antara 50 responden yang mendapatkan kapsul probiotik, hanya 7 yang mengalami infeksi ulangan selama masa penelitian. Sedangkan di antara 50 responden yang mendapatkan placebo 13 orang mengalami serangan ulang infeksi saluran kemih,” demikian sebagaimana dikutip dari The journal Clinical Infectious Diseases.

Sekalipun demikian Ann mengatakan bahwa mereka masih akan melakukan penelitian lanjutan, untuk memastikan apakah pengobatan dengan antibiotik dapat digantikan dengan jenis probiotik yang lebih “ramah” terhadap tubuh.