Firstburst, Pendeteksi Klamidia
- Share Facebook
- Share twitter
- Printer-friendly version
- Send by email
Firstburst, Pendeteksi Klamidia

Selama ini sebagian besar perempuan tak pernah menyadari bahwa ia ternyata mengidap klamidia. Pasalnya, infeksi ini kerap tidak menunjukkan gejala sama sekali. Klamidia adalah salah satu PSM (penyakit seksual menular) yang tak mudah dideteksi.
Jika tidak segera ditangani secara serius, klamidia bisa memicu infertilitas sehingga bisa membuat perempuan yang mengidapnya sulit hamil. Kalaupun terjadi kehamilan, penyakit ini bisa membahayakan bayi dalam kandungannya.
Paling cepat, gejala klamidia muncul dua sampai satu bulan setelah infeksi. Gejala yang paling nyata sangatlah umum, yaitu; produksi cairan vagina yang berlebih – seperti keputihan, rasa terbakar saat akan buang air kecil, bercak-bercak darah di luar masa menstruasi, serta keluhan nyeri perut yang tidak biasa.
Karena jumlah pengidap Klamidia semakin meningkat, Dr Helen Lee, peneliti dari University of Cambridge, Inggris mengupayakan sistem deteksi untuk infeksi ini. Alat tersebut kemudian diberi nama Firstburst, yang diketahui sangat praktis penggunaannya dan sangat akurat. Firstburst mampu mendeteksi infeksi klamidia hanya dalam hitungan menit. Cara kerjanya sangat mudah, mirip penggunaan strip pendeteksi kehamilan. Bedanya, selain menggunakan contoh urin, perempuan harus sedikit mengorek dinding vagina untuk mengambil contoh lendir. Positif atau tidaknya kondisi seorang perempuan mengidap infeksi ini akan segera terdeteksi dalam 25 menit.
Rencananya, alat ini akan diproduksi secara masal oleh Wellcome Trust dan didanai oleh lembaga pembiayaan penelitian di Inggris, WHO serta US National Institutes of Health. Selanjutnya Firstburst akan didistribusikan ke berbagai negara termasuk ke negara berkembang. “Di negara berkembang biasanya perempuan kurang antusias memeriksakan kesehatan reproduksi. Selain rendahnya kepedulian, biaya pemeriksaan kesehatan yang mahal adalah kendala terbesar. Alat ini akan sangat membantu, tidak saja dokter tapi juga perempuan yang tinggal di wilayah miskin,” kata Dr Helen Lee.
- Share Facebook
- Share twitter
- Printer-friendly version
- Send by email





© 2013 PT KAO Indonesia. All Right Reserved